Blinking Cartoony Heart Girly Doll
Showing posts with label bahasa indonesia. Show all posts
Showing posts with label bahasa indonesia. Show all posts
Wednesday, 25 June 2014
Secara umum surat adalah suatu sarana untuk menyampaikan informasi atau pernyataan secara tertulis kepada pihak lain baik atas nama pribadi (sendiri) ataupun karena kedinasan. Surat juga merupakan wakil resmi dari yang mengirim untuk membicarakan masalah yang dihadapi. Secara singkat dapat diketemukan bahwa surat adalah alat komunikasi penting dalam tata kerja tata usaha. Apabila terjadi hubungan surat menyurat secara terus menerus dan berkesinambungan, maka kegiatan ini disebut surat menyurat atau lazimnya korespondensi. Surat-menyurat adalah kegiatan penanganan surat masuk dan keluar yang meliputi penerimaan, penggolongan, pengarahan, pencatatan, pendistribusian dan pengiriman surat keluar.
ISI SURAT
1) Alinea pembuka
Alinea pembuka merupakan kata pengantar pada isi surat yang sesungguhnya, maksudnya untuk menarik perhatian pembaca pada pokok pembicaraan. 
  • Contoh alinea pembuka pada surat yang bersifat pemberitahuan, pertanyaan- pertanyan, ataupun laporan, serta permintaan.
    • Dengan ini kami nyatakan bahwa ..........
    • Kami beritahuan bahwa ..............
    • Dengan ini kami mohon bantuan Bapak untuk .........
    • Dengan sangat menyesal kami nyatakan bahwa .........
    • Perkenankan kami melaporkan tentang ..........
    • Bersama ini kami lampirkan ...................
    • Dengan gembira kami kabarkan bahwa ..........
Yang harus diperhatikan adalah pemakaian kata Bersama ini dan pemakaian kata Dengan ini. Bersama ini dipergunakan apa bila dalam surat tersebut ada yang dilampirkan seperti dokumen, berkas dan sebagainya, sedangkan Dengan ini dipergunakan apa bila pada surat tidak ada yang dilampirkan.
  • Contoh alinea pembuka pada jawaban surat atau balasan surat.
    • Sehubungan dengan surat saudara tanggal .......        no ...........
    • Berkenaan dengan saudara tanggal .........      nomor ..........
    • Menunjuk surat saudara no. ............     tanggal ........
    • Membalas surat saudara tanggal ........      nomor .............
    • Memenuhi permintaan saudara dengan surat tanggal .........          no. ........
    • Memperhatikan surat saudara no. ........     tanggal ...........
  • Contoh alinea pembuka berdasarkan iklan
    • Kami telah membaca iklan saudara pada harian Pikiran Rakyat tanggal ......no. .... tentang ..........
    • Berkenaan iklan Tuan yang terbit pada Harian Republik tanggal .......          no. ........               maka dengan ini ........
    • Kami sangat tertarik dengan iklan saudara yang dimuat pada harian Suara Karya bernomor .. pada tanggal ...........
2) Alinea Transisi (Isi surat yang sesungguhnya)
Isi surat yang sesungguhnya itu memuat apa yang harus dilaporkan, diminta, dinyatakan kepada penerima surat.Untuk menghindarkan salah paham maka isi surat sebaiknya singkat tetapi jelas dan pihak pembaca benar-benar mengerti maksud dan keinginan pengirim. Dengan demikian kata-kata serta istilah-istilah yang kurang biasa dipergunakan jangan dipakai dalam surat tersebut, baik itu istilah-istilah dalam Bahasa Indonesia apa lagi istilah dalam bahasa asing. Perkataan dan kalimat-kalimat harus baik susunannya dan tetap menjaga sopan santun, sehingga pembaca tidak tersinggung. Untuk mendapatkan susunan surat yang baik dan menarik perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  • Menetapkan lebih dulu maksud dan tujuan surat, yaitu pokok pembicaraan yang ingin disampaikan kepada penerima apakah itu laporan pernyataan, pertanyaan, permintaan, dan sebagainya.
  • Menetapkan masalah yang disampaikan kepada pembaca.
  • Merumuskan pokokpokok pembicaraan satu persatu secara berurutan dan logis serta kalimat yang menarik
  • Hindarkan singkatan kata-kata, lebih-lebih singkatan yang dikarang sendiri.
  • Menguasai dan memahami bentuk surat serta bagian-bagian surat.
  • Mengikuti pedoman penulisan ejaan yang diperbaharui (EYD) dan tanda baca sesuai dengan peraturan.
  • Hindarkan istilah-istilah yang tidak bisa dipakai, terutama istilah asing.
3) Alinea Penutup
Pada suatu surat, baik surat niaga maupun pribadi, alinea penutup merupakan:
  • Kesimpulan dari isi surat
  • Kunci dari isi surat
  • Penegasan dari isi surat
  • Tanda pembicaraan telah selesai.
Disamping itu alinea penutup juga mengandung harapan penulis atau ucapan terima kasih kepada penerima 
surat atas perhatiannya terhadap semua hal yang dikemukakan dalam isi surat.
Contoh-contoh alinea penutup.
  • Atas perhatian saudara, kami mengucapkan terima kasih.
  • Kami berharap kerjasama kita membuahkan hasil yang baik.
  • Mudah-mudahan pertimbangan kami bermanfaat bagi saudara.
  • Sambil menunggu kabar lebih lanjut, kami ucapkan terima kasih.
  • Demikianlah laporan kami, semoga mendapat perhatian saudara.
BAHASA SURAT
Surat dikatakan baik yaitu apabila dalam penulisannya sudah sesuai dengan kaidah-kaidah dalam penulisan surat. Selain dari pemilihan bahasa, bentuk dan tulisan surat itu sendiri, ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan. Hal-hal tersebut antara lain:
  1. Jelas : Jelas disini berarti: tulisan mudah dibaca dan mudah pahami baik dari identitas si pengirim surat, nama dan alamat yang dituju, serta dari isi surat itu sendiri
  2. Benar : Benar disini berarti: isi dari surat tersebut memang benar maksud dan tujuannya (tidak untuk iseng), serta menggunakan kosa kata yang baku.
  3. Sopan : Sopan disini berarti: menggunakan bahasa yang tidak hanya baku tetapi juga memiliki sopan santun. 
  4. Singkat/tidak terlalu bertele-tele : Singkat disini bukan berarti penulisan katanya yang harus disingkat-singkat, tetapi menggunakan bahasa yang efektif sehingga surat tidak terlalu panjang lebar.
  5. Lengkap : Lengkap disini berarti maksud dan tujuan sudah terwakilkan atau tertuang semua dalam surat.
  6. Menarik : Menarik disini bukan berarti harus menggunakan kosa kata seperti pada iklan-ikan yang sering kita jumpai. Tetapi, kertas dan sampul surat harus serasi, bersih dan rapi sehingga enak dipandang dan dibaca.
CONTOH SURAT
  • Surat Pemberitahuan

  • Surat Undangan Berjudul

  • Surat Undangan Berperihal

  • Surat Kuasa

  • Surat Pengantar

  • Surat Pernyataan

  • Surat Tugas
Sumber :


Thursday, 29 May 2014

1.  Laporan Berbentuk Formulir Isian
Untuk menulis laporan semodel ini biasanya telah disiapkan blangko daftar isian yang diarahkan kepada tujuan yang akan dicapai. Laporan tersebut bersifat rutin dan seringkali berbentuk angka-angka. Contoh gambar laporan berbentuk formulir isian :


2.  Laporan Berbentuk Surat
Bila sebuah laporan tidak mengandung banyak table, angka, atau sesuatu hal lain yang digolongkan pada table dan angka, maka bentuk yang paling umum digunakan adalah laporan berbentuk surat. Laporan berbentuk ini tidak banyak berbeda dengan surat biasa, kecuali bahwa ada sesuatu subyek yang ingin disampaikan agar dapat diketahui oleh si penerima laporan. Bentuknya lebih panjang dari surat-surat biasa dan biasanya pendekatannya bersifat pribadi dan menggunakan bahasa informal. Contoh gambar laporan berbentuk surat :


3. Laporan Memorendum
Laporan yang berbentuk memorandum (saran, nota, catatan pendek) mirip dengan bentuk surat namun biasanya lebih singkat. Biasanya digunakan untuk suatu laporan yang singkat dalam bagian-bagian suatu organisasi atau antara atasan dan bawahan dalam suatu hubungan kerja. Contoh laporan memorendum :

4. Laporan Berkala
Laporan ini selalu dibuat dalam jangka waktu tertentu. Laporan seperti ini dapat dibuat dalam bentuk formulir isian atau dalam bentuk memorandum. Contoh laporan berkala :

5. Laporan Laboratoris
Tujuannya adalah untuk menyampaikan hasil dari percobaan atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam laboratorium. Oleh sebab itu laporan ini seringkali memuat percobaan-percobaan yang telah dilakukan. Unsur pokok yang terpenting dalam laporan laboratoris:
  • Halaman judul
  • Obyek
  • Teori
  • Hasil yang dicapai dalam percobaan
  • Diskusi atas hasil yang telah didapat
  • Kesimpulan
  • Apendiks
  • Data asli
Contoh laporan laboratoris :

Referensi :

Saturday, 26 April 2014

A.  IDENTITAS BUKU :
  • Judul buku : Harry Potter dan Batu Bertuah (Harry Potter and The Sorcerer Stone)
  • Pengarang : J.K. Rowling
  • Penerjemah : Listiani Srisani
  • Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun terbit : Desember 2000 (cetakan keenam)
  • Tempat terbit : Jakarta
  • Tebal : 384 halaman, 20cm
  • Harga buku = Rp. 42.000
  • ISBN: 979-655-851-3

B.  JENIS BUKU :
Fiksi, Fantasi

C.  KUTIPAN SINGKAT :
Di masa-masa yang gelap, Lord Voldemort, dianggap sebagai penyihir gelap yang paling jahat dan kuat dalam sejarah. Ia senang merekrut penyihir-penyihir hebat di dunia sihir yang menimbulkan pertempuran antara penyihir putih dengan para pelahap maut. Ketika itu ia hendak merekrut  pasangan suami-istri  James dan Lily Potter, yang merupakan penyihir hebat dari Hogwarts di masa itu, mereka menolak ajakan gelap sang Lord Voldemort. Maka ia murka dan membunuh kedua pasangan tersebut. Harry Potter, bayi dari pasangan James dan Lily Potter, hampir saja terbunuh pada saat pertempuran itu. Tapi ajaibnya ketika mantra kutukan kematian dilakukan Voldemort kepada dirinya, kutukan tersebut malah berbalik arah menyerang Voldemort sendiri sehingga jiwanya terlepas dari tubuh asli, sedangkan Harry selamat dengan hanya meninggalkan bekas luka seperti sambaran kilat dikepalanya, inilah yang membuat Harry mendapat julukan "anak laki-laki yang hidup". 
Sementara dunia sihir merayakan kejatuhan Voldemort, Profesor Dumbledore , Profesor McGonagall, dan Rubeus Hagrid si setengah raksasa menempatkan sang bayi yang sebatang kara tersebut di depan rumah paman dan bibinya, pasangan Muggle (non-penyihir) bermuka masam dan dingin, yakni Vernon dan Petunia Dursley yang beralamat di Four Privet Drive.
Maka cerita dimulai dengan menceritakan kehidupan Mr. dan Mrs. Dursley, suami-istri yang tak percaya dengan segala sesuatu yang ajaib/misterius. Pada suatu pagi, Mrs. Dursley dikejutkan dengan adanya bayi tergeletak di depan pintu rumahnya. Maka dimulailah kehidupan Harry  di bawah "asuhan" dan intimidasi anak pasasangan Dursley, Dudley. Selama sepuluh tahun disana, Harry belum pernah diperlakukan secara baik, bahkan Dudley, anak super gemuk yang juga sepupu Harry selalu berbuat keras terhadap dirinya dan tersiksa oleh keluarga Dursley dan diperlakukan lebih sebagai budak dari anggota keluarga. 
Sesaat sebelum ulang tahunnya yang kesebelas, serangkaian surat yang ditujukan kepada Harry tiba tetapi paman Vernon menghancurkannya sebelum Harry bisa membacanya. Namun surat tersebut kian datang terus-menerus, maka untuk menghindari serbuan surat, Vernon membawa keluarganya ke hotel dan ketika surat-surat tiba di sana juga ia memaksa mereka semua untuk pergi sebuah pulau kecil. Pada hari ulang tahun kesebelas Harry pada tengah malam, Seorang manusia setengah raksasa tiba-tiba mendatanginya dan mengatakan bahwa Harry seorang penyihir. Langsung saja paman dan bibinya kaget bukan main. Bagaimana mungkin rahasia yang mereka jaga selama sepuluh tahun terungkap begitu saja kalau Harry Potter adalah seorang penyihir. Harry langsung dibawa dan diperkenalkan dengan sebuah sekolah sihir bernama Hogwarts dan segala komunitas sihir yang selama ini bersembunyi. 
Dari sinilah petualangan Harry dimulai, diawal masanya di Hogwarts Harry telah banyak dikenal, bukan saja karna latar belakangnya yang telah mengalahkan penguasa kegelapan pada umur satu tahun, tapi juga karna bakat sihirnya yang tinggi. Selain itu, Harry juga mahir dalam mengendarai sapu terbang sehingga terpilih menjadi Seeker (semacam kapten) di Olahraga sihir bernama Quidditch.
Disisi lain kehidupannya di Hogwarts, Harry tinggal di asrama Gryffindor bersama dua sahabat baiknya, Ronald Weasley yang terkenal konyol dan lucu serta Hermione Granger yang cerdas luar biasa walaupun berdarah muggle (muggle: bukan dari keturunan penyihir). Selain sahabat, ternyata Harry juga mempunyai musuh di Hogwarts. Adalah Draco Malfoy, anak asrama Slytherin yang berwajah pucat dan Severus Snape, seorang guru ramuan Hogwarts yang dulu sempat mengabdi menjadi pelahap maut. Mereka berdua sering ingin mencelakai Harry, namun sayangnya selalu gagal.
Di akhir kisahnya, Harry berhasil tahu bahwa ada seseorang yang ingin mencuri “SORCERER STONE”, batu bertuah, yang disembunyikan di Hogwarts. Air yang dihasilkan batu itu bisa membuat peminumnya berumur panjang. Itulah yang diincar Voldemort, musuh yang telah membunuh kedua orang tua Harry. Namun, Harry, Ron dan Hermione bisa menggagalkan rencananya. Harry nyaris saja kehilangan jiwanya ketika tiba- tiba bekas lukanya begitu sakit saat berhadapan dengan Voldemort yang merasuki tubuh Quirrel. Harry nyaris tak tertolong jika saja Dumbledore, kepala sekolahnya tidak datang pada saat yang tepat untuk menolongnya.  

D.   PENILAIAN BUKU

Kelebihan
  • Gaya bahasa yang unik, mudah dicerna dan lugas membuat buku ini cocok dibaca untuk segala usia
  • Walaupun diterjemahkan dari bahasa Inggris, namun gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang sangat lugas dan sederhana, sehingga maksud yang akan disampaikan mudah dicerna
  • Penokohan protagonis dan antagonis yang digambarkan secara jelas dan mendetail secara unik,
  • Mempunyai plot (alur) yang teratur dan saling terhubung, sehingga antara sebab dan akibat dapat dengan mudah dianalogikan oleh pembaca,
  • Kejadian-kejadian yang diceritakan mudah di imajinasikan dan fantastik seolah-olah pembaca benar-benar menyaksikan bahkan ikut bertualang didalam cerita ini,
  • Diselingi humor dan aksi-aksi konyol dari pemeran pembantu sehingga sangat menghibur dan tidak membosankan pembaca.
  • Penyajian konflik dan klimaks yang sangat menarik, membuat para pembaca selalu puas dengan akhir cerita serta  mampu membuat pembaca penasaran.

Kekurangan
Sangat sulit menemukan kekurangan dari karangan J.K Rowling ini. Hanya saja jika ditinjau  lebih dalam, maka berikut beberapa kekurangannya:
  • Novel ini mempunyai tokoh pembantu yang sangat banyak dengan nama-nama Inggris yang sulit diingat, terutama bagi anak-anak.
  • Dibandingkan dengan novel-novel Harry Potter yang lain, novel ini mempunyai desain cover yang kurang menarik, dan bahan kertas yang digunakan juga kurang berkualitas.
  • Terdapat cerita yang merujuk pada perkelahian, kesombongan, penindasan, permusuhan bahkan pembunuhan.

Ajakan
Semangat, harapan, kasih sayang, serta persahabatan dan CINTA yang ditunjukkan oleh Harry Potter benar-benar menyentuh. Ia anak yatim piatu yang tabah dan berani dalam menghadapi berbagai cobaan. Bacaan ini menarik bagi pembaca yang menyukai cerita misteri dan imajinasi. Cerita dari novel ini memberi amanat agar tidak mudah berburuk sangka pada orang lain. Novel ini menggambarkan tentang persahabatan manis yang terjalin antara Harry Potter, Ronald Weasley dan Hermione Granger sehingga pembaca diharapkan mampu mencontoh sifat baik mereka.
Oleh karena itu, novel ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang mudah putus asa dalam menjalani kehidupan dan sangat disarankan bagi Anda yang menyukai segala hal yang berbau “sihir”, imajinasi, atraksi dan fantasi. Novel ini digemari dari kalangan anak sekolah dasar bahkan sampai kalangan kakek-nenek. Tentunya Anda tak mau kalah dari anak SD ataupun kakek-nenek kan? Dijamin, Anda akan sangat puas setelah membaca novel ini.
Saturday, 12 April 2014
A.  PENGERTIAN  METODE  ILMIAH
Metode Ilmiah juga merupakan suatu proses keilmuan dalam memperoleh pengetahuan secara sistematatis berdasarkan bukti yang nyata guna memperoleh penyelesaian dari permasalahan yang sedang dihadapi. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Proses keilmuan dilakukan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisik.
Sistematis disini memiliki arti bahwa dalam usaha menemukan kebenaran dan menjabarkan pengetahuan yang diperoleh menggunakan langkah-langkah tertentu yang teratur dan terarah sehingga menjadi suatu keseluruhan yang terpadu.
Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan sebagainya.
B.  LANGKAH – LANGKAH  PELAKSANAAN  METODE  ILMIAH
Pelaksanaan metode ilmiah ini meliputi tujuh tahap, yaitu :
  • Merumuskan masalah
Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan. Pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi factor-faktor yang terkait didalamnya.
  • Mengumpulkan Informasi
Mengumpulkan data- data atau keterangan yang ada. Segala informasi yang mengarah dan dekat pada pemecahan masalah. Sering disebut juga mengkaji teori atau kajian pustaka.
  • Menyusun hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara atau dugaan sementara yang disusun berdasarkan data atau keterangan yang diperoleh selama observasi atau telaah pustaka. Pertanyaan yang diajukan yang merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
  • Menguji hipotesis 
Dengan melakukan percobaan atau penelitian untuk menguji hipotesis yang telah disusun.
  • Mengolah data (hasil) percobaan 
Mengolah data (hasil) percobaan dengan menggunakan metode statistik untuk menghasilkan kesimpulan.
  • Menguji kesimpulan
Penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima untuk meyakinkan kebenaran hipotesis melalui hasil percobaan perlu dilakukan uji ulang. Apabila hasil uji senantiasa mendukung hipotesis maka hipotesis itu bisa menjadi kaidah (hukum) dan bahkan menjadi teori.
  • Menulis laporan Ilmiah
Untuk mengkomunikasikan hasil penelitian kepada orang lain sehingga orang lain tahu bahwa kita telah melakukan suatu penelitian ilmiah.
C. TUJUAN  ILMIAH
Tujuan dalam mempelajari metode ilmiah adalah salah satu bentuk harapan untuk masa depan. Oleh karena itu, dalam penulisan ilmiah kita tidak diperbolehkan asal menulis atau mengindahkan kaidah-kaidah dalam penulisan ilmiah. Dalam penulisan ilmiah, kita harus mempunyai metode agar tulisan dapat dipahami dan dimengerti oleh pembaca dikemudian hari.
Berikut beberapa tujuan dalam mempelajari metode ilmiah :
  1. Meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara sistematis
  2. Meningkatkan pengetahuan tentang mekanisme dan tata cara penulisan karangan ilmiah.
  3. Untuk meningkatkan keterampilan, baik dalam menulis, menyusun, mengambil kesimpulan maupun dalam menerapkan prinsip-prinsip yang ada.
  4. Merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis.
  5. Untuk mencari ilmu pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah, pengumpulan data yang relevan, analisis data dan interpretasi temuan, diakhiri dengan penarikan kesimpulan.
  6. Mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional, yang teruji) sehingga merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.
D. SIKAP ILMIAH
Sikap ilmiah adalah sikap-sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap ilmuwan dalam melakukan tugasnya untuk mempelajari meneruskan, menolak atau menerima serta merubah atau menambah suatu ilmu.

Berikut 7 macam sikap ilmiah yaitu :
  • Sikap Ingin Tahu
Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya. Selalu terdorong untuk lebih banyak ingin mengetahui. Caranya dengan membaca buku, bertanya kepada orang yang lebih tahu, mengadakan pengamatan, dan melakukan percobaan sendiri.
  • Sikap Kritis
Sikap kritis ini terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan dan kekurangannya, kecocokan dan tidaknya, kebenaran dan tidaknya, dan sebagainya.
  • Sikap Obyektif
Sikap objektif ini terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya, tanpa diikuti perasaan pribadi. Pendapat dan kesimpulan yang diarnbil harus berdasarkan fakta yang ada, bukan berdasarkan pendapat pribadi atau orang lain.
  • Sikap Ingin Menemukan
Selalu memberikan saran-saran untuk eksperimen baru. Kebiasaan menggunakan eksperimen-eksperimen dengan cara yang baik dan konstruktif. Selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya.
  • Sikap Menghargai Karya Orang Lain
Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain.
  • Sikap Tekun
Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksperimen yang hasilnya meragukan, tidak akan berhenti melakukan kegiatan-kegiatan apabila belum selesai. Terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti. Tidak mudah putus asa jika hasil percobaan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tidak segan-segan mengulangi percobaan.
  • Sikap Terbuka
Sikap terbuka ini terlihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai. Selain itu misalnya mau bekerja sama dengan orang lain, mau menerima kritikan atau saran dari orang lain yang bersifat membangun, dan mau memberikan pengalarnannya kepada orang lain.

Sumber :


Menulis karangan adalah kegiatan menulis usulan-usulan yang benar berupa pernyataan-pernyataan tentang fakta, kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dari fakta dan merupakan pengetahuan. Terdapat tiga golongan karangan, yaitu ilmiah, ilmiah popular, dan non-ilmiah. Berikut adalah penjelasan tentang masing-masing pengertian, ciri-ciri atau karakteristiknya serta macam-macam bentuknya.
A.  KARANGAN ILMIAH
“Karangan ilmiah merupakan suatu karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isisnya dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya/keilmiahannya.”—Eko Susilo, M. 1995:11
Karangan ilmiah adalah salah satu jenis karangan yang berisi serangkaian hasil pemikiran yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya. Karangan Ilmiah atau yang sering disebut karya ilmiah juga diartikan sebagai karangan yang dibuat berdasarkan cara yang sistematis dan memiliki ciri-ciri tertentu.
Karya ilmiah merupakan suatu tulisan yang di dalamnya membahas suatu masalah yang dilakukan berdasarkan penyedikan, pengamatan, pengumpulan data yang dapat dari suatu penelitian, baik penelitian lapangan, tes laboratorium ataupun kajian pustaka dan dalam memaparkan dan menganalisis datanya harus berdasarkan pemikiran ilmiah,yang dikatakan dengan pemikiran ilmiah disini adalah pemikiran yang logis dan empiris.
Sedangkan jenis karangan ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya semua itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan.

Ciri-ciri karangan ilmiah :
  1. Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
  2. Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua.  
  3. Pernyataan cermat, tepat, tulus, dan benar, serta tidak memuat terkaan.
  4. Netral. Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok.
  5. Penyusunannya dilaksanakan secara sistematis, konseptual dan procedural. Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demkian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.
  6. Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan). Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. 
  7. Tidak bersifat argumentatif dan tidak persuasif, tetapi kesimpulannya terbentuk atas dasar fakta. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat ‘mengajak’, ‘membujuk’, atau ‘mempengaruhi’ pembaca dihindarkan.
  8. Logis. Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.
Bentuk karangan ilmiah dapat berupa :
  • Makalah,
  • Usulan  penelitian,
  • Skripsi,
  • Tesis,
  • Disertasi,
  • Laporan penelitian.
B.  KARANGAN ILMIAH POPULAR
Karangan ilmiah popular atau semi-ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang benar. Karangan jenis semi-ilmiah biasa dinamai ilmiah popular. 
Karya ilmiah populer merupakan suatu karya yang ditulis dengan menggunakan bahasa yang populer sehingga mudah dipahami oleh masyarakat dan menarik untuk dibaca. Karya tulis ilmiah populer merupakan karya ilmiah yang bentuk, isi, dan bahasanya menggunakan kaidah-kaidah keilmuan, serta disajikan dalam bahasa yang santai dan mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Ciri-ciri karangan ilmiah popular adalah :
  1. Ditulis berdasarkan fakta pribadi.
  2. Fakta yang disimpulkan subyektif.
  3. Gaya bahasa formal dan popular.
  4. Mementingkan diri penulis.
  5. Melebih-lebihkan sesuatu.
  6. Usulan-usulan bersifat argumentatif.
  7. Bersifat persuasif.
Bentuk karangan semi-ilmiah atau ilmiah popular yaitu :
  • Artikel,
  • Esai,
  • Kritik,
  • Editorial,
  • Opini,
  • Tips,
  • Resensi buku.
C.  KARANGAN NON - ILMIAH
Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, tidak didukung fakta umum, bersifat subyektif, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).
Karya tulis ini juga merupakan sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannya tidak semi-formal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan dalam karangan ini. 
Ciri-ciri karangan non-ilmiah:
  1. Ditulis berdasarkan fakta pribadi.
  2. Fakta yang disimpulkan subyektif.
  3. Gaya bahasa konotatif dan popular dan bias konkret atau abstrak
  4. Tidak memuat hipotesis.
  5. Penyajian dibarengi dengan sejarah.
  6. Bersifat imajinatif dan deskriptif
  7. Situasi didramatisir.
  8. Bersifat persuasif. penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informatif.
  9. Kritis tanpa dukungan bukti atau fakta umum.
Jenis-jenis yang termasuk karya non-ilmiah, yaitu:
  • Dongeng
  • Cerpen
  • Novel
  • Drama
  • Roman
  • Anekdot
  • Puisi
  • Hikayat
  • Naskah Drama
Sumber :


Sunday, 9 March 2014
Oleh: Princess Gladys Ingrid

Kawan, marilah kita berlari 
Siapkanlah semangat dan tekad diri
Bersama kita meraih cita dan asa
Walau tak mudah tapi pasti kita bisa


Waktu cepat silih berganti
Bersama mengejar mimpi
Tak ada kata ‘tuk berhenti
Menuju pelangi ditengah mentari



Mari melawan keterbatasan
Walau hanya sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Menggapai mimpi-mimpi



Janganlah kuatir apa yang akan terjadi
Maka teruslah berusaha dan berdoa
Menantang hidup dan menggali cita
Hingga dunia tersenyum bahagia

I.  PENALARAN INDUKTIF
Induksi adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Proses penalaran juga disebut sebagai corak berpikir yang ilmiah. Penalaran induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut induksi.
Paragraf induktif dapat diartikan sebagai suatu kalimat yang memiliki gagasan utama yang terletak di depan sebuah kalimat dan didukung oleh kalimat penjalasan dalam sebuah paragraf.  Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. 
Contoh : 
Jika dipanaskan, besi memuai. 
Jika dipanaskan, tembaga memuai. 
Jika dipanaskan, emas memuai. 
Jika dipanaskan, platina memuai. 
Kesimpulan :      Jika dipanaskan, logam memuai. 

Jika ada udara, manusia akan hidup. 
Jika ada udara, hewan akan hidup. 
Jika ada udara, tumbuhan akan hidup. 
Kesimpulan :   Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup. 

Contoh penalaran induktif:
Suatu lembaga kanker di Amerika melakukan studi tentang hubungan antara kebiasaan merokok dengan kematian. Antara tanggal 1 Januari dan 31 Mei 1952 terdaftar 187.783 laki-laki yang berumur antara 50 sampai 69 tahun. Kepada mereka dikemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang kebiasaan merokok mereka pada masa lalu dan masa sekarang. Selanjutnya, keadaan mereka diikuti terus menerus selama 44 bulan. Berdasarkan surat kematian dan keterangan medis tentang penyebab kematiaannya, diperoleh data bahwa diantara 11.870 kematian yang dilaporkan 2.249 disebabkan kanker.

Dari seluruh jumlah kematian yang terjadi (baik pada yang merokok maupun tidak) ternyata angka kematian di kalangan penghisap rokok tetap jauh tinggi dari pada yang tidak pernah merokok, sedangkan jumlah kematian penghisap pipa dan cerutu tidak banyak berbeda dengan jumlah kematian yang tidak pernah merokok.
Selanjutnya, dari data yang terkumpul itu terlihat adanya korelasi positif antara angka kematian dan jumlah rokok yang dihisap setiap hari . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 
Dari bukti-bukti yang terkumpul dapat dikemukakan bahwa asap tembakau memberikan pengaruh yang buruk dan memperpendek umur manusia. Cara yang paling sederhana untuk menghindari kemungkinan itu adalah dengan tidak merokok sama sekali. (disaring dari tulisan Roger W. Holmes dalam Mc Crimmon).
Paparan di atas menggambarkan proses penalaran induktif. Proses itu dilakukan langkah demi langkah sampai pada kesimpulan.

II. MACAM-MACAM VARIASI PENALARAN INDUKTIF 

1.  GENERALISASI
Generalisasi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa. Dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang diamati ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu. Proses penarikan kesimpulan yang dilakukan dengan cara itu disebut dengan generalisasi. Jadi, generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian gejala yang diamati. Karena itu suatu generalisasi mencakup ciri-ciri esensial atau yang menonjol, bukan rincian. Di dalam pengembangan karangan, generalisasi perlu ditunjang atau dibuktikan dengan fakta-fakta, contoh-contoh, data statistik, dan sebagainya yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus sebagai penjelasan lebih lanjut.
Generalisasi bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tadi. Generalisasi hanya akan mempunyai makna yang penting, bila kesimpulan yang diturunkan dari sejumlah fenomena tadi bukan saja mencakup semua fenomena itu, tetapi juga harus berlaku pada fenomena-fenomena lain yang sejenis yang belum diselidiki. Generalisasi dapat dibedakan menjadi generalisasi yang berbentuk loncatan induktif dan bukan loncatan induktif.
Generalisasi merupakan proses yang biasa dilakukan oleh setiap orang. Generalisasi pada kebanyakan orang terjadi karena pengalaman, maka jarang seorang awam memikirkan adanya proses jalan pikiran yang bersifat induktif yang tercakup di dalamnya. Generalisasi bagi orang awam adalah suatu proses berfikir yang mendahului penyelidikan atas fenomen-fenomena yang khusus dalam jumlah yang cukup banyak untuk menuju pada suatu kesimpulan umum mengenai semua hal yang terlibat. Sebaliknya bagi seorang peneliti generalisasi harus didahului bukan mendahului penyelidikan atas sejumlah fenomena. Ia harus mengadakan observasi, penyelidikan dengan penuh kesadaran dan bersikap objektif untuk sampai kepada sebuah generalisasi.
Pengujian atau Evaluasi Generalisasi :
  1. Harus diketahui apakah sudah ukup banyak jumlah peristiwa yang diselidiki sebagai dasar generalisasi (ciri kuantitatif).
  2. Apakah peristiwa merupakan contoh yang baik (ciri kualitatif).
  3. Memperhitungkan kecualian yang tidak sejalan dengan generalisasi.
  4. Perumusan generalisasi harus absah.
Contoh I
  • Dicky adalah seorang polisi, dia berambut cepak.
  • Alfa adalah seorang polisi, dia berambut cepak.
  • Generalisasi: Semua polisi berambut cepak.
Contoh 2: 
  • Tamara Blezynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik. 
  • Nia Ramdani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik. 
Generalisasi : Semua bintang iklan berparas cantik 
Pernyataan "semua bintang iklan berparas cantik" hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya. 
Contoh Kesalahannya : Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik 

Generalisasi dapat dibagi Dua Jenis, yaitu:

A.    Generalisasi tanpa loncatan induktif:
Generalisasi tanpa loncatan induktif adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki dan tidak mengandung loncatan induktif bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali.
Sebuah generalisasi tidak mengandung loncatan induktif bila fakta-fakta yang diberikan cukup banyak dan menyakinkan, sehingga tidak terdapat peluang untuk menyerang kembali. Perbedaan generalisasi dengan loncatan induktif dengan tanpa loncatan induktif terletak pada persoalan jumlah fenomena yang diperlukan.
Contoh: sensus penduduk

B.    Generalisasi Dengan Loncatan Induktif
Generalisasi dengan loncatan induktif adalah sebuah generalisasi yang bersifat loncatan induktif tetap bertolak dari beberapa fakta, namun fakta yang ada belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada. Dalam loncatan induktif suatu fenomena belum mencerminkan seluruh fakta yang ada. Fakta-fakta tersebut yang digunakan dianggap sudah mewakili seluruh persoalan yang diajukan. Dengan demikian, loncatan induktif dapat diartikan sebagai loncatan dari sebagian evidensi kepada suatu generalisasi yang jauh melampaui kemungkinan yang diberikan oleh evidensi itu.
Contoh:
Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.

2.      HIPOTESE  DAN  TEORI
Generalisasi dan hipotese memiliki sifat yang tumpang tindih, namun membedakan kedua istilah tersebut sangat perlu. Hipotese (hypo ‘di bawah’, tithenai ‘menempatkan’) adalah semacam teori atau kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu sebagai penuntun dalam meneliti fakta-fakta lain lebih lanjut.
Hipotese merupakan suatu dugaan, teori  atau kesimpulan yang bersifat sementara waktu mengenai sebab-sebab atau relasi antara fenomena-fenomena.  Hipotese adalah semacam teori atau kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu dalam penelitian fakta lebih lanjut. 
Dan sebaliknya, teori sebenarnya merupakan hipotese yang secara relatif lebih kuat sifatnya bila dibandingkan dengan hipotese. Teori merupakan hipotese yang telah diuji dan yang dapat diterapkan pada fenomena-fenomena yang releven atau sejenis. Teori adalah azas-azas yang umum dan abstrak yang diterima secara ilmiah dan sekurang-kurangnya dapat dipercaya untuk menerangkan fenomena-fenomena yang ada. Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.
Untuk merumuskan hipotese yang baik perhatikan ketentuan berikut:
  1. Memperhitungkan semua evidensi yang ada
  2. Bila tidak ada alasan lain, maka antara dua hipotesa yang mungkin diturunkan, lebih baik memilih hipotesa yang sederhanan daripada yang rumit.
  3. Sebuah hipotese tidak pernah terpisah dari semua pengetahuan dan pengalaman manusia
  4. Hipotese buka hanya menjelaskan fakta-fakta yang membentuknya, tetapi harus menjelaskan fakta-faktase jenis yang belum diselidiki.
Hipotesis ini merupakan suatu jenis proposisi yang dirumuskan sebagai jawaban tentatif atas suatu masalah dan kemudian diuji secara empiris. Sebagai suatu jenis proposisi, umumnya hipotesis menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel yang di dalamnya pernyataan-pernyataan hubungan tersebut telah diformulasikan dalam kerangka teoritis. Hipotesis ini diturunkan atau bersumber dari teori dan tinjauan literatur yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.
Pernyataan hubungan antara variabel, sebagaimana dirumuskan dalam hipotesis, merupakan hanya merupakan dugaan sementara atas suatu masalah yang didasarkan pada hubungan yang telah dijelaskan dalam kerangka teori yang digunakan untuk menjelaskan masalah penelitian. Sebab teori yang tepat akan menghasilkan hipotesis yang tepat untuk digunakan sebagai jawaban sementara atas masalah yang diteliti atau dipelajari dalam penelitian. Dalam penelitian kuantitatif peneliti menguji suatu teori. Untuk meguji teori tersebut, peneliti menguji hipotesis yang diturunkan dari teori. 

3. ANALOGI INDUKTIF
Pada dasarnya analogi adalah perbandingan. Perbandingan selalu mengenai sekurang-kurangnya dua hal yang berlainan. Dari kedua hal yang berlainan itu dicari kesamaannya (bukan perbedaanya). Dari pengungkapannya, ada analogi sederhana serta mudah dipahami dan ada yang merupakan kias yang lebih sulit dipahami. Dari isinya, analogi dapat dibedakan sebagai analogi dekoratif dan analogi induktif.  Kesimpulan yang diambil dengan jalan analogi, yakni kesimpulan dari pendapat khusus dari beberapa pendapat khusus yang lainnya.
Analogi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain, kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku untuk suatu hal akan berlaku pula untuk hal yang lain. Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada. Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan karyawan-karyawati.  
Analogi induktif merupakan analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua.. Di dalam proses analogi induktif kita menarik kesimpulan tentang fakta yang baru berdasarkan persamaan ciri dengan sesuatu yang sudah dikenal. Kebenaran yang berlaku yang satu (lama) berlaku pula dengan yang lain (baru). Yang sangat penting dengan proses analogi induktf ialah bahwa persamaan yang digunakan sebagai dasar kesimpulan merupakan ciri utama (esensial) yang berhubungan erat dengan kesimpulan.
Analogi sebagai suatu proses penalaran yang menurunkan suatu kesimpulan berdasarkan kesamaan aktual antara dua hal dapat diperinci lagi untuk tujuan berikut:
  1. Untuk meramalkan kesamaan.
  2. Untuk menyingkapkan kekeliruan.
  3. Untuk menyusun sebuah klarifikasi.
Contoh analogi induktif :
Secara tidak sengaja Amara mengetahui bahwa pensil Stedler 4B nya menghasilkan gambar vignette yang memuaskan hatinya. Pensil itu sangat lunak dan menghasilkan garis-garis hitam dan tebal. Maka selama bertahun-tahun ia selalu memakai pensil itu untuk membuat vignet. Tetapi, ketika ia belibur di rumah nenek di sebuah kota kecamatan ia kehabisan pensil. Ia mencari di toko-toko di sepanjang satu-satunya jalan raya di kota itu. Dimana-mana tidak ada. Akhirnya dari pada tidak mencoret-coret ia memilih merk lain yang sama lunaknya dengan Stedler 4B. “Ini tentu akan menghasilkan vignet yang bagus juga”, putusnya meghibur diri.
Paragraph diatas merupakan contoh dari analogi indukitif. Keputusan Amara merupakan kesimpulan berdasarkan persamaan sifat kedua merk pensil itu.

4.      HUBUNGAN  KAUSAL
Hubungan antara sebab dan akibat (hubungan kausal) didalam dunia modern ini, kadang-kadang tidak mudah diketahui. Tetapi itu tidak berarti bahwa apa yang dicatat sebagai suatu akibat tidak mempunyai sebab sama sekali.
Hubungan kausal merupakan prinsip sebab-akibat yang ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun. 
Hubungan kausal dibangun oleh hubungan antara suatu kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat atau dampak), yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang pertama. 
Hubungan kausal merupakan asumsi dasar dari ilmu sains. Dalam metode ilmiah, ilmuwan merancang eksperimen untuk menentukan sebab-akibat dari kehidupan nyata. Tertanam dalam metode ilmiah adalah hipotesis tentang hubungan kausal. Tujuan dari metode ilmiah adalah untuk menguji hipotesis tersebut. 
Pada umumnya hubungan kausal ini dapat berlangsung dalam tiga pola berikut : 
a)      Sebab ke akibat
Hubungan sebab ke akibat mula-mula bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai sebab yang diketahui, kemudian bergerak maju menuju kepada suatu kesimpulan sebagai efek atau akibat yang terdekat.
Contoh :
Penekanan tombol lampu, hujan : tanah becek dan berlumpur, pakaian yang dicuci tidak lekas kering
b)      Akibat ke sebab
Hubungan akibat ke sebab merupakan suatu proses berfikir yang induktif juga dengan berolak dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai akibat yang diketahui, kemudian menuju sebab-sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat.
Contoh :
Seorang pasien pergi ke dokter karena sakit yang dideritanya 
c)      Akibat ke akibat
Proses penalaran yang berproses dari suatu akibat menuju suatu akibat yang lain, tanpa menyebut atau mencari sebab umum yang menimbulkan kedua akibat.

5.      INDUKSI  DALAM  METODE  OKSPOSISI

Sebagai telah dikemukakan diatas, untuk menetapkan apakah data dan informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penelitian, apakah data dan informasi itu merupakan kenyataan atau yang sungguh-sungguh terjadi. Pada tahap selanjutnya pengarang atau penulis perlu mengadakan penilaian selanjutnya, guna memperkuat fakta yang akan digunakan sehingga memperkuat kesimpulan yang akan diambil. Dengan kata lain, perlu diadakannya seleksi untuk menentukan fakta mana yang akan dijadikan evidensi.
Merupakan salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat. 
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah atau cara proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah menyusun eksposisi: 
  • Menentukan topik/tema 
  • Menetapkan tujuan 
  • Mengumpulkan data dari berbagai sumber 
  • Menyusun kerangka karangan sesuai topik yang dipilih 
  • Mengembangkan kerangka menjadi eksposisi 
Pada hakikatnya semua metode merupakan proses penalaran yang dapat dimasukan dalam salah satu corak penalaran utama Metode identifikasi merupakan perumusan katagorial mengenai fakta yang diketahui mengenai suatu obyek garapan. Metode perbandingan bisa mencakup penalaran yang induktif maupun deduktif. Metode klarifikasi mencakup kedua-duanya. Bila klarifikasi bertolak dari pengelompokan ke dalam suatu kelas berdasarkan ciri yang sama, maka ia merupakan induksi. Dengan demikian metode yang telah diuraikan dalam eksposisi sekaligus juga dapat dimanfaatkan dalam argumentasi.

Sumber :
Saturday, 8 March 2014
PENGERTIAN PENALARAN DEDUKTIF
Penalaran deduktif menggunakan bentuk bernalar deduksi. Deduksi yang berasal dari kata de dan ducere, yang berarti proses penyimpulan pengetahuan khusus dari pengetahuan yang lebih umum atau universal. Perihal khusus tersebut secara implisit terkandung dalam yang lebih umum. Maka, deduksi merupakan proses berpikir dari pengetahuan universal ke singular atau individual.
Sedangkan penalaran deduktif  itu sendiri adalah cara berpikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Pernyataan tersebut merupakan premis, sedangkan kesimpulan merupakan implikasi pernyataan dasar tersebut. Artinya, apa yang dikemukakan dalam kesimpulan sudah tersirat dalam premisnya. Jadi, proses deduksi sebenarnya tidak menghasilkan suatu konsep baru, melainkan pernyataan atau kesimpulan yang muncul sebagai konsistensi premis-premisnya.
Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.
Metode berpikir deduktif  adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Penalaran deduktif adalah menarik kesimpulan khusus dari premis yang lebih umum. Jika premis benar dan cara penarikan kesimpulannya sah, maka dapat dipastikan hasil kesimpulannya benar. Penalaran deduktif erat dengan matematika khususnya matematika logika dan teori himpunan dan bilangan. Penalaran deduktif tergantung pada premisnya. Artinya, premis yang salah mungkin akan membawa kita kepada hasil yang salah dan premis yang tidak tepat juga akan menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat.
Contoh klasik penalaran deduktif adalah :
  • Semua hewan punya mata.
  • Anjing termasuk hewan.
  • Anjing punya mata
Faktor– faktor penalaran deduktif :
  1. Pembentukan Teori
  2. Hipotesis
  3. Definisi Operasional
  4. Instrumen
  5. Operasionalisasi.
MACAM-MACAM SILOGISME DI DALAM PENALARAN DEDUKTIF:
Di dalam penalaran deduktif terdapat entimen dan 3 macam silogisme, yaitu silogisme kategorial, silogisme hipotesis dan silogisme alternatif.
1. Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial adalah argumen deduktif yang mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari tiga (dan hanya tiga) proposisi kategorial, yang disusun sedemikian rupa sehingga ada tiga term yang muncul dalam rangkaian pernyataan itu.
Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.
Silogisme kategorial terjadi dari tiga proposisi, yaitu:
  • Premis umum                    : Premis Mayor(My)
  • Premis khusus                   : Premis Minor (Mn)
  • Premis simpulan               : Premis Kesimpulan (K)
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
Aturan umum dalam silogisme kategorial sebagai berikut:
  1. Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah.
  2. Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan.
  3. Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
  4. Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negatif.
  5. Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
  6. Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
  7. Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
  8. Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
Contoh Silogisme Kategorial :
  • My         :  Semua buruh adalah manusia pekerja.
  • Mn         : Semua tukang batu adalah buruh.
  • K           : Jadi, semua tukang batu adalah manusia pekerja.
  • My         : Semua mahluk hidup bisa bernafas.
  • Mn         : Kucing adalah mahluk hidup.
  • K           : Kucing bisa bernafas.
2. Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotesis, sedangkan premis minornya adalah proposisi kategorial. Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Silogisme hipotetis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotese.
Konditional hipotesis adalah bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen. Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotetis.
Rumus proposisi mayor dari silogisme:
Jika P, maka Q
Contoh:
  • My         : Bila hujan, pakaian yang dijemur akan basah.
  • Mn         : Sekarang pakaian yang dijemur telah basah.
  • K           : Jadi, hujan telah turun.
  • My         : Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
  • Mn         : Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa.
  • K             : Jadi, kegelisahan tidak akan timbul.
  • My         : Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah.
  • Mn         : Pihak penguasa tidak gelisah.
  • K             : Jadi, mahasiswa tidak turun ke jalanan.
3. Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif atau silogisme disjungtif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Adalah silogisme yang premis mayornya keputusan alternatif sedangkan premis minornya kategorial yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme hipotesis istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya.
Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.Proporsi mayornya merupakan sebuah proposisi alternatif, yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan atau pilihan.
·         Proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya.
·         Konklusi tergantung dari premis minornya.
Contoh:
  • Premis Mayor    : Ayah ada di kantor atau di rumah
  • Premis Minor     : Ayah ada di kantor
  • Konklusi            : Maka, ayah tidak ada di rumah.
4. Silogisme Entimen
Entinem berasal dari kata Enthymeme, enthymema (Yunani) yang berasal dari kata kerja enthymeisthai yang berarti ‘simpan dalam ingatan’. Silogisme muncul hanya dengan dua proposisi. Merupakan penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Merupakan silogisme yang salah satu proposisinya dihilangkan tetapi proposisi tersebut dianggap ada dalam pikiran dan dianggap oleh orang lain. Entimen pada dasarnya adalah silogisme. Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Silogisme asli/awal :
  • Premis Mayor    : Karyawan yang lulus seleksi penerimaan pegawai BUMN dihubungi oleh bagian SDM
  • Premis Minor     : Ari dihubungi oleh bagian SDM
  • Konklusi            : Sebab itu, Ari adalah Karyawan yang lulus seleksi penerimaan pegawai BUMN
  • Entimen            : Ari adalah Karyawan yang lulus seleksi penerimaan pegawai BUMN, karena dihubungi oleh bagian SDM
Contoh Entimen :
  • Dia naik jabatan karena ia rajin bekerja
  • Anda naik gaji karena anda berhak menerima kenaikan jabatan itu
Sumber :

UNIVERSITAS GUNADARMA

CLOCK

Cute Rocking Baby Monkey

MY PROFILE

Powered by Blogger.

CALENDAR